top of page

_2024: apa kabar?


Di hari Minggu pagi ini, dengan kepala yang masih berputar karena ˆhangover, saya tiba-tiba berpikir kembali mengenai kemampuan saya di dalam mengejawantahkan apa yang ada di dalam pikiran saya ke dalam sebuah tulisan (dengan ragamnya masing-masing).


Pak Boss baru saya (iya, saya pindah ke kantor baru) ketika melakukan appraisal saya di bulan ini juga berkata hal yang sama, "You have the tendency to put sound effect in your e-mail." Saat saya mendengarkan komentar dari Pak Boss yang juga mendapatkan feedback dari rekan kerja di kantor saya yang baru ini, saya tertawa. Bukan tertawa karena saya tidak terima atas komentar yang diberikan, namun lebih ke sebuah afirmasi bahwa gaya saya menulis ini adalah sama dengan gaya saya berbicara. By the way, saya harus berterima kasih kepada Alm. Samuel Mulia yang dengan rajinnya menulis sebuah rubrik di Kompas weekend - beliau memiliki pengaruh besar dalam gaya penulisan serta penyampaian sebuah gagasan dengan memadukan unsur pop dan tentu saja, petty.


Bagi beberapa orang yang berinteraksi dengan saya, mungkin dapat merasakan kalau tulisan yang mereka baca ini seperti bernada. Nada apa? Nada bicara saya, yang mana bisa saja: (a) merepet semacam ibu-ibu komplek perumahan yang lagi emosi sama tukang sayur atau (b) nada bicara biasa yang penuh partikel, penekanan dalam beberapa kata disertai selipan kata asing dan kata gaul masa kini dengan framework "diversity and inclusion".


Di satu sisi saya merasa senang karena tidak ada perbedaan antara apa yang ada di dalam pikiran, lisan dan tulisan. Namun, saya menyadari bahwa hal ini juga menjadi kelemahan karena bagi orang-orang yang baru berinteraksi dengan saya, pasti akan merasa shock - yang mana ini juga adalah pelajaran bahwa saya harus memiliki kemampuan untuk berempati. Sebuah pekerjaan rumah yang never ending selama hidup saya.

Hari ini saya diingatkan bahwa memang bersikap baik kepada orang lain itu tidak hanya tercermin dari apa yang kita lakukan, tetapi juga dari apa yang kita tuliskan di dalam media. Saya selalu berkata sama semua rekan kerja saya yang lebih junior, "Setajam-tajamnya kemampuan mengingat otak lo, lebih tajam ujung pensil," karena kecenderungan mereka untuk tidak mencatat diskusi dan hanya menyimpannya dalam sanubari hati lalu kemudian lupa begitu saja. Ini juga ternyata berma



kna bahwa ketajaman itu juga berhubungan dengan perasaan pribadi orang lain - ini makanya mengapa pasal pencemaran nama baik di media itu isu yang sangat seksi karena kalimat yang mencemarkan nama baik yang bersifat subjektif itu didokumentasikan di dalam bentuk tulisan dan dapat dibaca berulang-ulang, ya semacam prasasti di era kejayaan nusantara.


Well, saya memang harus belajar menjadi orang yang lebih berempati dan toning down ketika mengutarakan sesuatu, atau apa yang ada di dalam hati dan pikiran saya sendiri. Perasaan itu memang valid, namun cara menyampaikannya harus lebih stratejik. HALAH. Sebuah pengingat juga bahwa saya harus lebih sering menulis di blog yang sudah mati suri selama beberapa waktu lamanya ini.


Dan ngomong-ngomong, apa kabar? Semoga kita semua dalam keadaan bahagia, atau paling tidak: merasa cukup.

Selamat hari Minggu!

Lewi Aga Basoeki / legabas

Related Posts

See All

Opmerkingen


bottom of page