2021: Tripple A



Di dalam beberapa minggu terakhir ini gue sedang berpikir keras tentang bagaimana cara untuk meng-address residual feelings yang masih ada di dalam diri untuk sebuah peristiwa yang pernah terjadi di dalam hidup gue. Sebuah perbincangan menarik dengan psikolog membuat gue tersadar akan satu hal: selama ini gue memang resilient alias tahan banting atau memang sengaja menyapu perasaan itu di bawah karpet? Brush it off, tanpa pernah menyelesaikan akar permasalahan?


Seketika gue terhenyak di akhir sesi dengan psikolog tersebut. Gue kemudian bertanya kepada diri gue sendiri, apa memang iya gue sudah berdamai dengan keadaan? Apa memang iya kalau gue memang benar-benar ikhlas atas peristiwa yng baru saja terjadi? Tampaknya gue sulit untuk menjawab dua pertanyaan tersebut.

Menyapu perasaan di bawah karpet

Salah satu cara untuk membuat sebuah ruangan tampak rapih adalah dengan cara menyembunyikan semua barang di dalam lemari. Kita pernah diminta untuk membereskan kamar dan cara paling cepat untuk membereskan kamar adalah memasukkan semua baju, baik yang kotor atau tidak, ke dalam lemari. Masalah tampak beres, namun sebanya tidak.


Perilaku ini sama seperti saat kita menyapu kamar. Alih-alih membuang debu dan kotoran ke tong sampah, yang mungkin butuh energi ekstra, kita malah mengumpulkannya di bawah karpet. Tampak bersih, namun lagi-lagi, sebenarnya tidak.


Sama seperti residual feelings atau perasaan yang masih tersisa untuk sebuah peristiwa yang tidak mengenakkan di dalam hidup kita. Katakanlah, peristiwa duka karena ditinggal oleh orang terkasih. Kita mungkin terlihat baik-baik saja, berusaha tegar tapi sebenarnya hati merana. Kita tidak mau mengakui bahwa sebenarnya kita sedang rapuh dan butuh bantu. Alasannya mungkin banyak, salah satunya adalah karena orang-orang terdekat membutuhkan sosok yang bisa dijadikan panutan di tengah kedukaan.


Atau di dalam kasus putus cinta, misalnya. Saat pasangan kita kemudian memutuskan hubungan, ada berbagai emosi di dalam hati, namun yang kita fokuskan hanya emosi yang utama. Amarah, contohnya. Kita tidak bertanya lebih jauh mengenai emosi-emosi lain yang berputar di peristiwa tersebut. Kita membiarkan diri kita dikonsumsi oleh emosi primer.


Setelah peristiwa itu berlalu, prinsip “life goes on” lalu menjadi ditelan bulat-bulat. Kita menyapu berbagai tanda tanya ataupun trauma-trauma kecil (atau bisa juga besar) di bawah karpet, menganggap bahwa semuanya itu adalah bagian dari hidup.


Apakah benar demikian?


Triple A- Assess, Address and Acknowledge

Hal pertama yang perlu dilakukan rasanya adalah doing your own assessment. Feeling apa yang masih tersisa dan masih menjadi beban pikiran selama ini. Apakah ketika kita mengalaminya, hidup kita jadi keluar track atau nada-nada keseharian menjadi off beat? Mengapa, adalah sebuah pertanyaan penting yang perlu direnungkan.


Proses ini tidak langsung jadi dalam sehari dan justru di sinilah kita sadar bahwa hidup itu tidak semata-mata harus terburu-buru dan grasa-grusu. Diikuti saja perasaannya dan prosesnya dan kunci pentingnya adalah: jangan melawan saat diri sedang emosi alias denial.


Hal kedua adalah addressing our own feeling. Kita mulai berpikir mengenai cara dan metode untuk membuat feeling tersebut dapat diselesaikan. Istilah kerennya: closure. Kita membutuhkan closure-closure tersebut untuk menjawab keingintahuan kita, rasa penasaran kita atau jawaban atas pertanyaan yang selama ini berputar di dalam pikiran atau hati kita sendiri.


Ada kalanya addressing ini lebih sulit dari yang kita pernah kira, karena mungkin jawaban tersebut kita temukan tidak pada diri kita sendiri tetapi pada orang lain atau keadaan. Pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah: apakah orang yang bersangkutan mau turut terlibat untuk addressing atau melakukan closure? Bisa ya, bisa juga tidak.


Hal terakhir adalah acknowledge, mengakui dan berdamai dengan keadaan yang telah ada. Ini juga sulit karena tidak semua orang mau berdamai dengan keadaan padahal ada keadaan-keadaan yang tidak bisa diubah dan hal tersebut adalah di luar kehendak kita. Rasa-rasnaya kita perlu memaknai betul mengenai acknowledging dan make peace with yourself ini.


Hidup ini adalah proses dan tiga hal ini adalah proses yang tidak bisa selesai dalam semalam, perlu pemahaman lebih bahwa tidak semua masalah di dalam hidup ini harus selesai secepat kilat. Butuh perenungan, butuh kemampuan untuk berdamai dan mengakui serta butuh melihat lebih dalam mengenai emosi yang terjadi dan mengapa emosi tersebut bisa sedemikian rupa mengikat kita.


Selamat merenung, kalau begitu.

Lewi Aga Basoeki


Related Posts

See All