2021: Moderasi


"Selamat Tahun Baru! "


Belum terlambat untuk mengucapkannya bukan?


Tahun baru, tetapi pandemi masih belum berlalu. Yah, namanya juga hidup, seringkali masa lalu bukan lagi masa lalu. Present perfect progressive tense, kalau di dalam bahasa Inggris. Artinya kurang lebih adalah sebuah aksi yang terjadi di masa lalu, terjadi di masa sekarang dan mungkin tetap terus terjadi masa depan. Semoga saja kemungkinan terakhir, tidak terlaksana secara sempurna.


Ngomong-ngomong, berlalunya tahun 2020, sebuah tahun yang bagi beberapa orang rasanya ingin dihapuskan begitu saja, mungkin menyisakan beberapa (atau mungkin banyak) pelajaran untuk kita semua. Ada yang belajar memahami prioritas, ada juga yang mulai menyadari privilege-nya di dalam strata sosial masyarakat, dan ada juga yang terlihat memang "YOLO" atau malah, "hidup seenak sendiri" tanpa perlu memandang kepentingan masyarakat lebih besar.


Pandemi menjadikan sifat dan naluri homo sapiens keluar dengan sendirinya. Mulai dari toleransi sampai menghakimi. Semua tergambarkan begitu rupa di sosial media.. Rupa-rupa spektrum emosi dapat kita rasakan begitu gencarnya, sejalan dengan narasi kehidupan orang-orang yang berubah seratus delapan puluh derajat.


Kalau ditanya, apa sih yang dipelajari dari tahun 2020 ini? Maka saya belajar satu kata yaitu: moderasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan dua makna terhadap kata ini. Pertama. pengurangan kekerasan. Kedua, penghindaran keekstreman.


Saya lebih merasakan makna yang kedua yaitu penghindaran keekstreman. Apa maksudnya?


Belajar Menemukan Titik Tengah

Saya belajar dan memahami bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Ini terjadi seketika saya mengurangi porsi makan dan kalori yang saya asup setiap hari. Saya tersadar bahwa sebenarnya saya tidak membutuhkan kalori sebanyak itu dalam satu hari. Saya yang suka jajan (dan minum cafe mocha setiap hari) ini memutuskan untuk berdamai dengan diri sendiri dan merenunngi kata "secukupnya".

Sama seperti sebuah ayat di Doa Bapa Kami, "berikanlah hari ini makanan kami yang secukupnya," yang harus dimaknai bahwa rasa cukup untuk satu hari seharusnya memberikan kedamaian dalam hati, karena esok, ada makanan (baca: rezeki) lain yang pasti juga cukup untuk hari esok.


Di sinilah saya menjadi belajar, state of mind dari hidup cukup itu apa. Saya harus menemukan titik tengah dari aspek-aspek kehidupan yang saya jalani. Contohnya? Belajar untuk tidak oversharing di sosial media, sederhana tetapi susah.


Menemukan titik tengah di dalam hidup itu tidak semudah mengikuti ekstrem kanan atau ekstrem kiri karena segala sesuatunya harus terjadi dengan seimbang. Tidak kemanisan. Tidak keasinan. Pas.


Tahu kapan maju, mundur atau berhenti

Hidup itu berpacu dengan cepatnya, ia tidak akan berhenti meskipun kita sudah terengah-engah, ngos-ngosan dan berharap ingin mati. Terus berjalan dan ada kecenderungan bagi kita untuk ikut berlari, berjalan cepat atau bahkan melompat lebih tinggi.


Keekstreman ini yang menurut saya harus dihindari dan mengakui sepenuhnya bahwa tidak apa-apa atau tidak ada salahnya kalau ritme kita tidak sama dengan ritme kehidupan banyak orang yang serba cepat dan terburu-buru. Ada saatnya kita harus melompat, ada saatnya memang ya menikmati saja untuk diam di tempat. Di sinilah perasaan insecure dan tidak membanding-bandingkan harus diaktivasi sedemikian rupa.


Kalau memang harus jalan di tempat, so be it. Kalau harus berlari sprint mengejar ketertinggalan, so be it juga. Sadar diri bahwa keras dengan diri sendiri itu tidak baik juga. Moderasi.


Ya kira-kira begitulah ramblings awal tahun saya. Semoga kita semua dihindarkan dari sifat-sifat ekstrem yang membuat kita kehilangan titik tengah dan keseimbangan dalam hidup.


Selamat berakhir pekan!

Lewi Aga Basoeki

Related Posts

See All