12: Pride, a closing note

31.12.2017

Ditulis oleh

 

Di sudut sebuah tempat 'ngopi di Kolombo, saya menulis catatan akhir tahun saya di blog. Saya berusaha melakukan kilas balik terhadap apa yang saya hadapi selama satu tahun belakangan ini, tentang kegagalan dan keberhasilan. Ketika saya melihat satu per satu, saya justru bingung, mana yang ingin diceritakan terlebih dahulu karena terlalu banyak yang terjadi di tahun ini. 

 

Yang pasti, tahun ini saya lumayan jarang untuk menulis bahkan melakukan refleksi terhadap hidup saya sendiri. Saya mungkin terlalu sibuk berlari (dan lompat dari satu tempat ke tempat lainnya) hingga lupa untuk berdiam diri. Lebih lanjut, saya baru sadar bahwa tahun ini adalah tahun terakhir saya menginjak usia kepala 2 dan dalam hitungan hari, saya akan menginjak kepala 3, suatu dekade baru.


Saat melihat apa yang sudah terjadi, saya menyadari bahwa waktu memang berjalan begitu cepatnya tanpa bisa di-pause atau di-rewind. Sebenarnya, pemahaman yang tepat bukanlah "waktu berjalan cepat" namun kita yang seringkali tidak sadar tentang keberadaan diri kita sendiri di linimasa. Detik berlalu begitu saja tanpa dimaknai pun demikian halnya dengan hari dan pemahaman bahwa, "Ah, besok pasti masih ada lagi!"

 

Ini yang rasanya terjadi di tahun ini.  

 

Begitu banyak waktu yang terbuang dengan percuma dan juga kemalasan-kemalasan yang terjadi. Indikatornya? Ada beberapa resolusi tahun ini yang tahun ini yang belum terjadi. Saya hanya bisa tertawa ketika melihat beberapa hal tidak tercapai. Namanya juga hidup, ada gagalnya juga. 

 

Di sisi lain, saya pun mulai paham tentang preferensi dan cara pandang saya melihat hidup. Ketika di usia 20an awal saya masih galau dan penuh pertanyaan tentang hidup, sekarang ini saya mulai mengenal diri saya sendiri seutuhnya. Saya pun mulai paham bahwa mendengarkan kata dan komentar orang lain itu tidak akan ada habisnya, jadi biarlah berlalu begitu saja. Hanya komentar dari orang-orang terdekat yang patut menjadi bahan pertimbangan. Sisanya? Dibalas dengan senyum simpul saja.

 

Tahun ini saya belajar bahwa menghidupi hidup adalah dengan cara bersyukur tentang apapun keadaan kita. Makan di restoran bintang lima dan makan di kaki lima adalah dua hal yang sama, sama-sama makan. Apakah bisa bahagia dengan makan di kaki lima? Jawabannya bisa! Materi tidak membentuk kebahagiaan dan kebahagiaan tidak selama-lamanya berlandasarkan materi. Bahagia itu asalnya dari hati, bukan materi. 

 

Catatan akhir tahun ini lumayan berantakan, tetapi sepertinya ini adalah perasaan saya selama satu tahun ini, gado-gado. Saya bangga akan keberhasilan dan juga kegagalan yang saya alami di tahun ini.Saya lumayan penasaran dengan tahun depan, tentang bagaimana saya akan memulai perjalanan baru dan menyelesaikan apa yang saya mulai di tahun 2017. 

 

Selamat menyambut tahun baru! Safe travel guys! Have fun!  

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Tulisan yang tercantum di dalam blog ini adalah hasil karya dari Lewi Aga Basoeki dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Setiap pencantuman dari tulisan dan juga foto yang termuat di dalam blog ini haruslah seizin dari Lewi Aga Basoeki.

Disclaimer
Menara di Trinidad
Tokyo
Havana 3
Ateshkadeh-ye Isfahan 1
Museo Historico Municipal
Pencarian Dengan Tag

2019. Hak Cipta oleh Lewi Aga Basoeki, Jakarta, Indonesia