2020: Transit

20.03.2020

Ditulis oleh

 

Suka tidak suka, mau tidak mau, kita seringkali hanya menjadi tempat persinggahan yang sifatnya sementara di dalam hidup seseorang.  


Ya gak apa-apa juga, bukan? Malam ini, saya berusaha merenungi premis dan juga menjadi pemahaman saya selama ini, bahwa tidak semua orang menjadi tujuan akhir dari kisah cinta seseorang, ada beberapa orang yang hanya menjadi tempat singgah sementara atau istilah kerennya: transit.

 

Berapa banyak sih dari kita yang dekat dengan orang (atau mungkin, pacar orang, tanpa sengaja) dan merasa bahwa orang yang bersangkutan itu sesuai dengan kriteria yang kita idam-idamkan tetapi kemudian, lepas dan pergi begitu saja? Pahit-pahitnya, yang bersangkutan kemudian memilih untuk setia terhadap pacarnya atau ... berpacaran dengan orang lain, dan bukan dengan kita. 

 

Menjadi tempat persinggahan sementara itu tidak mengenakkan, apalagi saat kita menjadi tong sampah emosi dari seseorang yang pernah, sedang atau membuat kita suka karena kedekatan saat masa-masa transit ini. Rugi energi, waktu dan perasaan, bukankah demikian? 

 

Saya berpikir, lantas apakah kita harus mengunci diri kita rapat-rapat, melakukan lock down terhadap hati dan waspada sedemikian rupa terhadap orang-orang yang punya kemungkinan hanya akan transit? Sepertinya hal tersebut patut untuk dilakukan.

 

Kegagalan yang dahulu pernah saya lakukan bertahun-tahun lalu adalah melambungkan tinggi ekspektasi, membuka pintu hati saya selebar-lebarnya serta melontarkan asa dengan pemahaman bahwa orang yang bersangkutan akan stay and will not go away. Kenyataannya, tidak. 

 

Namun, saya belajar bahwa menjadi tempat persinggahan memang tidak ada salahnya juga, dengan catatan bahwa, kita tidak menaikkan security level dan menurunkan ekspektasi serendah-rendahnya, bahwa orang yang bersangkutan hanya akan singgah dan tidak akan investasi perasaan sedemikian dalamnya.

 

Tidak pernah ada salahnya menjadi Changi Airport atau ... Hamad International Airport, dua bandara favorit saya. Saat kita membiarkan diri kita menjadi tempat persinggahan sementara, maka kita justru bisa belajar untuk legowo dan membiarkan diri kita lebih dikontrol dengan logika, dibandingkan perasaan.

 

Saat ada pacar orang yang mendekati kita saat hubunganya tidak baik atau dia tidak bahagia dengan hubungannya dan ingin menjadikan kita seolah sebagai "orang ketiga" maka adalah hal yang tepat saat kita tetap membiarkan orang tersebut singgah, dengan ekspektasi serendah mungkin dan menganggap bahwa, ia akan lalu begitu saja dalam sekejap.

 

Untuk kali ini, kita harus memiliki self-esteem yang sedemikian tingginya terlebih lagi jika orang yang singgah itu adalah orang yang kita idam-idamkan sejak lama atau ternyata, ketika berinteraksi, hati berdegup kencang dan berkata, "he/she is the one!" Susah rasanya tetapi daripada sakit hati dan meraung-raung? Prinsipnya sih, hanya orang-orang mampu saja yang bisa stay lama dan menetap di Singapura, bukan di Changi Airport.  

 

Sama seperti seseorang yang hanya transit, orang tersebut tidak memiliki kualitas untuk bisa tinggal menetap, jadi buat apa investasi waktu, energi serta perasaan? Secukupnya dan sewajarnya saja. Ini adalah salah satu bentuk perlindungan diri paling sederhana, agar tidak terus menerus disakiti dan bentuk berdamai dengan diri sendiri untuk urusan manajemen ekspektasi. 

 

Banyak orang mungkin datang menghampiri, tetapi bukan berarti semua harus dianggap sebagai cinta sejati.

 

Selamat berakhir pekan! 

Lewi Aga Basoeki

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Tulisan yang tercantum di dalam blog ini adalah hasil karya dari Lewi Aga Basoeki dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Setiap pencantuman dari tulisan dan juga foto yang termuat di dalam blog ini haruslah seizin dari Lewi Aga Basoeki.

Disclaimer
Menara di Trinidad
Tokyo
Havana 3
Ateshkadeh-ye Isfahan 1
Museo Historico Municipal
Pencarian Dengan Tag

2019. Hak Cipta oleh Lewi Aga Basoeki, Jakarta, Indonesia