07: Netizen Menggonggong, Aku Pun Berlalu

08.07.2018

Ditulis oleh

 Waktu pelajaran bahasa Indonesia saat sekolah dasar di zaman dahulu kala, saya teringat dengan sebuah peribahasa, "Anjing menggongong, kafilah berlalu." Peribahasa terbodo amat yang secara ajaib dan untung diajarkan kepada generasi 90an sampai 2000an. Eh, apakah sekarang masih ada pelajaran bahasa Indonesia bagian peribahasa sih? 

 

Arti dari peribahasa tersebut, tanpa perlu bertanya lebih lanjut kepada Almarhum J.S. Badudu, adalah membiarkan orang lain berbicara atau bergunjing namun kita membiarkan begitu saja. Bahasa zaman sekarangnya itu, anti baper-baper klab, Beb! Peribahasa tersebut menjadi sedemikian relevannya dengan situasi zaman sekarang saat komentar itu dengan gampangnya diutarakan, tanpa perlu melalui gosip-gosip tetangga di tempat mangkal tukang sayur. Semua orang bebas berkomentar dengan jarinya dan seringkali, seenak jidat, eh apa seenak jempol ya?

 

Gonggong Terus!

Dunia maya ini luar biasa ganas. Kita salah sedikit, pasti langsung digas dan biasanya yang ngegas itu pun juga nggak kenal-kenal banget dan hanya tahu sepotong kecil hidup kita, itu pun juga dari sosial media atau syukur-syukur, dicari di Google (we always stalk our first date right?). Gas dan gonggongan ini hadir di sosial media ataupun melalui screen capture. Omongan itu gak bisa dipegang, yang bisa itu di-screen capture! 

 

Akibat dari keganasan ini adalah kita menjadi kurang berempati dengan hidup orang lain karena dengan mudahnya berkomentar. Ini gawat sih karena selain kepopuleran yang instan, kita menjadi homo sapiens yang cenderung untuk menilai segala sesuatunya hanya dari satu sisi dan perspektif saja, perspektif kita. Kita pun menjadi "anjing" yang menggonggong di dalam peribahasa yang dimaksud di atas. Gonggongan di Whatsapp Group, Facebook, Instagram, Youtube dan semua kanal sosial media lainnya.

 

Social Media Empathy

Kekurangan empati ini yang membuat kita tidak memanusiakan manusia di sosial media. Saya pernah suatu saat dikirimi pesan yang isinya menegur tentang salah satu aspek hidup saya. Saya pun bingung sendiri dengan orang yang bersangkutan. Mengobrol saja tidak pernah, tahu kisah hidup saya secara utuh pun tidak, tapi ya kemudian kenapa bisa komentar? Judgment yang dilakukan berdasarkan sosial media.

 

Apakah ini salah? Sebenarnya nggak salah juga. Ketika kita posting sesuatu di sosial media maka sudah sepantasnya, kita menerima fakta bahwa apa yang kita post itu akan dikomentari oleh banyak orang. Di sisi lain, justifikasi semacam ini tidak serta-merta membuat kita tidak memiliki empati terhadap hidup orang lain dan dengan seenak jidatnya berkomentar dengan alasan, "Ya siapa suruh dia posting?!" 

 

Bersikap Bodo Amat

Lalu bagaimana kalau misalkan netizen terus menggonggong atau orang-orang terdekat kita terus-menerus berkomentar tentang hidup kita? "Sok tahu banget rasanya gak sih?" atau "Hidup juga ya hidup kita, bukan hidup mereka!" adalah pemikiran yang seringkali dirasakan dan dialami. Well, selamat! Ini salah satu tidak enaknya menjadi homo sapiens yang komunal. 

 

Bodo amat itu adalah kunci sebenarnya untuk menghadapi orang-orang yang suka komentar dan tidak relevan. Inilah sikap "berlalu" yang dimaksud oleh si kafilah. Bukan berarti menutup mata dan telingat terhadap komentar-komentar orang yang we matter the most, tetapi buat yang nggak relevan, kenapa harus peduli? Bisa gila lama-lama.

 

Ada komentar yang memang perlu kita terima dan ada komentar yang nggak perlu sama sekali kita terima. Kemampuan untuk mengukur relevansi inilah yang harus dimiliki karena nggak semua komentar itu penting. Buat saya, manusia dewasa itu adalah manusia yang bisa membedakan antara komentar yang membangun atau tidak.

 

Beberapa teman saya mengalami depresi karena hidup di bawah bayang-bayang komentar orang lain. Ukuran yang dipergunakan oleh orang lain harus juga dipaksakan ke dalam hidupnya. Ini sama aja kayak memaksakan baju ukuran S sama orang yang badannya L. YA GAK MUAT DONG MBAK. 

 

Jangan sampai stress dan depresi sendiri kalau hidup dengan standar orang lain karena setiap orang itu unik dan nggak bisa dipukul rata begitu aja. On the other side, kita harus lebih banyak belajar berempati dan nggak main asal komentar terhadap hidup orang lain, di sosial media ataupun di luar sosial media. 

 

Kalau pun masih demikian, mungkin ada baiknya kita mengulang kembali pelajaran peribahasa di kelas bahasa Indonesia saat sekolah dasar. 

 

Selamat Hari Minggu!

Lewi Aga Basoeki  

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Tulisan yang tercantum di dalam blog ini adalah hasil karya dari Lewi Aga Basoeki dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Setiap pencantuman dari tulisan dan juga foto yang termuat di dalam blog ini haruslah seizin dari Lewi Aga Basoeki.

Disclaimer
Menara di Trinidad
Tokyo
Havana 3
Ateshkadeh-ye Isfahan 1
Museo Historico Municipal
Pencarian Dengan Tag

2019. Hak Cipta oleh Lewi Aga Basoeki, Jakarta, Indonesia