05: Sekolah Lagi atau Kerja Dulu?

12.05.2018

Ditulis oleh

 

"Gue habis S1, mau langsung cepet-cepet ambil S2."

 

"Gue nggak mau jadi budak korporat, gue mau ada di zona nyaman gue yaitu dunia kuliah." 

 

"Orang tua gue langsung meminta gue buat S2 nih. Harus gak sih gue ambil?" 

 

Sebagian dari kita mungkin familiar dengan keadaan di atas atau mungkin, kita sedang bertanya-tanya kepada diri kita sendiri, "Harus nggak sih gue langsung S2 setelah lulus kuliah?" Percayalah, saya dulu berada di dalam situasi tersebut ketika beberapa bulan bekerja sebagai anak magang di sebuah kantor hukum afiliasi internasional. Saat itu, saya ingin sekali berlindung di balik tumpukan buku dan berada berjam-jam di perpustakaan yang adalah safe haven saya ketimbang harus bekerja sampai larut malam. Suatu pelarian dari yang namanya beban tanggung jawab sebagai manusia dewasa yaitu: bekerja dan cari uang.  

 

Namun ternyata, keputusan saya untuk melanjutkan studi S2 delapan tahun kemudian adalah hal yang tepat. Mengapa?

 

3L: Lulus Langsung Lanjut?

Setelah dipikir-pikir ya, untuk sarjana ilmu sosial ataupun sarjana hukum seperti saya, kalau tidak ingin menjadi akademisi, memang sebaiknya bekerja terlebih dahulu sebelum melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Saya akhirnya bisa memahami kalau ilmu sosial ini adalah ilmu yang harus terjun ke lapangan, berbeda dengan ilmu alam atau kedokteran yang penuh dengan praktik dan uji coba. Menjadi sarjana hukum misalnya, tidak bisa sebatas memahami peraturan perundang-undangan tetapi harus mengaplikasikan penerapan peraturan perundang-undangan tersebut di kehidupan sehari-hari. 

 

Belajar di ruang kuliah itu menurut saya berkutat dengan urusan teori dan ilmu. Kapan menerapkan teori dan ilmu tersebut? Justru di dunia kerja. Pada masa pertama kali saya bekerja, saya beberapa kali kebingungan karena menghadapi kenyataan bahwa ternyata apa yang saya pahami di dunia kuliah ternyata bisa mengalami perbedaan dengan apa yang saya alami di dunia nyata. Pemahaman seperti ini yang tidak didapatkan ketika kita memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

 

Bahkan sepengtahuan saya, banyak dari dosen-dosen saya yang tidak hanya mengajar dan berlindung di balik titel akademisi tetapi juga menjadi praktisi. Mengapa? Biar pemahamannya tidak sebatas buku dan ilmu saja. 

 

Secara spesifik di dunia konsultan hukum atau pengacara korporasi, S2 atau bahkan S3 itu tidak terlalu penting untuk melihat jenjang karir seseorang. Yang terpenting adalah sudah berapa lama menangani transaksi dan jenis transaksi seperti apa yang pernah diselesaikan, lebih sulit dan bermutu, pasti akan lebih cepat karirnya. Hal ini yang saya pahami setelah berdiskusi dengan beberapa partner, head hunter ataupun rekan kerja di beberapa kantor hukum di Jakarta. Ada beberapa kantor hukum yang malah menjadikan anak lulusan S2 menjadi anak magang dan tidak bisa langsung menjadi associate karena memang, belum punya pengalaman apa-apa untuk menangani beragam transaksi. Ini hanya bisa didapatkan saat sudah bekerja. 

 

Mematangkan Pengalaman

Pengalaman di dunia kerja itu adalah pengalaman yang menurut saya sangat berguna untuk bisa menjadikan dasar atas pertanyaan, "Mengapa kita memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2?", sebuah pertanyaan yang sering diajukan ketika membuat motivation letter atau surat aplikasi lamaran beasiswa. Kita pun bisa memasukkan pengalaman-pengalaman yang didapatkan selama bekerja sebagai dasar di dalam resume ataupun curriculum vitae

 

Di sisi lain, memasuki dunia pekerjaan itu termasuk salah satu cara paling benar untuk mematangkan karakter dan keluar dari zona nyaman kita serta salah satu syarat mutlak untuk menjadi manusia dewasa. Tidak dapat dipungkiri sih kalau menjadi mahasiswa itu adalah hal yang nyaman, belum lagi kalau kita mendapatkan beasiswa. Namun ketahuilah, ada perasaan yang berbeda ketika kita bisa bekerja, mencari uang sendiri dan membeli barang keperluan (atau jalan-jalan) dengan duit sendiri, pun mendapatkan bekal pengalaman untuk bisa memperkuat kemampuan kita untuk S2 nanti.

 

Beberapa teman saya yang sudah bekerja lebih lama dan kemudian melanjutkan kuliah justru merasa lebih bisa mengikuti diskusi di dalam ruang kuliah dan dengan tegasnya berpendapat, "Pada praktiknya di Indonesia,..." Coba bayangkan saat kita baru lulus dan kemudian langsung lanjut kuliah, apa yang dipahami baru dalam tahap ilmu dan bukan praktik. 

 

Bekerja = Menabung Lebih Banyak

Urusan mendapatkan beasiswa atau tidak untuk S2 itu adalah urusan berikutnya. Kalau mendapatkan beasiswa, ya patut disyukuri. Lebih bersyukur lagi kalau kita mendapatkan beasiswa dan otomatis, tabungan yang selama ini kita kelola dari hasil gaji bulanan itu bisa dijadikan dana tambahan untuk mengambil S2 (baca: buat dana jalan-jalan kalau S2-nya di luar negeri). 

 

Hal ini yang saya alami ketika akan mengambil S2 di Belanda bulan September mendatang. Tabungan saya, yang pada awalnya ingin saya pergunakan untuk berkuliah di Leiden University, akhirnya saya alihkan untuk keperluan lain dan juga dana tambahan untuk biaya hidup selain dana beasiswa yang saya dapatkan dari StuNed. Saya tidak lagi mendapatkan dana dari orang tua saya karena saya ingin belajar untuk hidup mandiri, ini poin penting berikutnya di kehidupan dewasa. HAHA. 

 

Kalau saya dulu memilih untuk melanjutkan sekolah dan mencari beasiswa, tanpa tabungan dari hasil gaji saya setiap bulan dan investasi, saya pasti hanya mengandalkan hidup di perkuliahan dari satu "keran air" saja yaitu dana beasiswa, yang mana bisa jadi pas (atau pas-pasan) untuk kehidupan perkuliahan. Tidak salah memang, tetapi jika ingin kuliah dengan tidak memusingkan dana karena terlalu berhemat sampai lupa menikmati hidup, coba pertimbangkan untuk bekerja dulu dan membuat tabungan pendidikan untuk diri sendiri untuk dana tambahan di kala kuliah. 

 

Take a Break

Kuliah itu memang menyenangkan, apalagi kalau S2-nya itu dua tahun dan dapat beasiswa pula. Tidak perlu berkutat dengan kehidupan stress di dunia pekerjaan. Saya menganggap bahwa kuliah lagi itu sebagai cuti panjang setelah kelelahan bekerja selama beberapa tahun. Kuliah itu semacam rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan setiap hari dan momen yang tepat untuk "take a step back before walk or jump further", apalagi kalau sudah lebih dari lima tahun bekerja, ini adalah saat yang tepat untuk mengambil study leave atau sabbatical leave selama beberapa saat. 

 

Cuti buat kuliah ini guna banget buat bujangan macam saya atau bagi yang belum memutuskan untuk menikah lebih awal. Saya sih tidak menyarankan untuk bekerja sambil kuliah S2, kecuali kalau ada alasan-alasan lain. Saya memutuskan untuk S2 karena saya mencari safe haven yang sengaja saya simpan saat saya merasa jenuh di dalam bekerja. 

 

Kapan Waktu yang Tepat? 

Kalau ditanya, kapan waktu yang tepat untuk melanjutkan sekolah, ini pertanyaan yang berbeda-beda untuk setiap profesi. Di profesi saya sebagai pengacara korporasi, melanjutkan kuliah S2 itu sebaiknya setelah berpraktik di atas 5 tahun. Ada juga yang bilang kalau seseorang akan tahu kapan saatnya ia harus melanjutkan kuliah untuk melangkah ke jenjang berikutnya, ya rada mirip sama yang namanya pernikahan sih.

 

Saya percaya bahwa waktu orang itu berbeda-beda, pun demikian halnya dengan pendapat. Satu hal yang saya pelajari dari urusan melanjutkan kuliah ini adalah: jangan pernah bandingin hidup kita dengan hidup orang lain, fokus aja sama hidup kita sendiri. Teman saya berkata, energi yang paling besar adalah energi untuk tahan melihat pencapaian orang lain. Saat ada teman seangkatan yang bisa kuliah di universitas idaman, ada teman yang tampak biasa aja tetapi bisa mendapatkan beasiswa ataupun pencapaian orang-orang di sekitar kita yang membuat kita geram ataupun gemas sembari berkata, "Kok kita begini-begini saja?"


Melanjutkan kuliah itu bukan karena ingin berkompetisi dengan peer group atau karena teman-teman yang lain sudah melanjutkan kuliah pula. Urusan ini adalah urusan dengan diri sendiri karena jalan hidup orang berbeda-beda.

 

Belum tentu yang sudah kuliah S2, karirnya akan lebih bagus. Bisa melanjutkan kuliah itu rezeki dan semua orang sudah ada jalannya masing-masing.


Selamat hari Sabtu! 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Tulisan yang tercantum di dalam blog ini adalah hasil karya dari Lewi Aga Basoeki dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Setiap pencantuman dari tulisan dan juga foto yang termuat di dalam blog ini haruslah seizin dari Lewi Aga Basoeki.

Disclaimer
Menara di Trinidad
Tokyo
Havana 3
Ateshkadeh-ye Isfahan 1
Museo Historico Municipal
Pencarian Dengan Tag

2019. Hak Cipta oleh Lewi Aga Basoeki, Jakarta, Indonesia