12: Mengapa traveling sendirian patut masuk sebagai resolusi tahun baru?

27.12.2017

Ditulis oleh

 

Salah satu jawaban teratas jika ada pertanyaan, "Alasan utama orang traveling sendirian adalah ..." versi Family100 adalah selain karena single (and ready to mingle alias jomblo) adalah juga karena mencari teman traveling yang seiya sekata itu susah-susah gampang macam mencari pacar (yang lagi-lagi juga butuh PDKT bukan?). Ada beberapa teman dekat atau sahabat yang enak diajak nongkrong dan bisa ketawa berjam-jam di kafe (tanpa memesan kopi tambahan) tetapi begitu traveling bareng, ya kok rasanya kurang sedap gitu? Ribut sepanjang perjalanan dan traveling rasa-rasanya kayak mengarungi bahtera rumah tangga yang ujung-ujungnya bercerai dengan alasan, "Mohon maaf, perbedaan prinsip." 

 

Selain teman jalan yang susah dicari, alasan lainnya adalah karena destinasinya mungkin memang tidak umum. Saya beberapa kali "jual diri" dengan cara berkoar-koar di sosial media tentang mengajak jalan-jalan ke Iran, Korea Utara, Myanmar, Sri Lanka atau Kuba tetapi semua nyalinya langsung ciut macam bertemu calon mertua. Jadilah, saya pergi sendirian dan sama seperti lagu Kunto Aji, saya ini suda terlalu lama (jalan-jalan) sendiri.

 

Setelah dipikir-pikir dan tujuh tahun belakangan ini selalu traveling sendirian, saya sadar bahwa traveling sendirian itu membuat saya lebih belajar mengenal diri saya sendiri (entah sebelumnya saya mengenal diri saya sebagai siapa dan apa, HAHA). Kegiatan ini juga patut untuk masuk resolusi tahun baru buat yang masih bingung, quantum leap apa yang ingin dilakukan di tahun yang baru mendatang. 

Sendirian, nggak takut?

Saya percaya bahwa takut itu hanya pada Tuhan Yang Maha Esa jadi otomatis ketakutan sebenarnya bukan halangan untuk traveling sendirian. Yang penting sih beriman. Ini tampaknya klise tapi memang benar adanya. Kesendirian menjadi dinding utama yang membuat kita takut untuk memesan tiket pesawat dan pergi ke tempat yang mungkin jaraknya dua jam perjalanan dari tempat kita tinggal.

 

Saat saya berada di negara nun jauh di sana seorang diri, saya justru jadi mengapresiasi kesendirian. Beberapa orang pasti mengernyitkan dahi atau mengajukan pertanyaan, "LAH, lo mau ngomong sama siapa kalau jalan-jalan sendirian? Lo nggak takut merasa kesepian?" Jawaban saya sih sederhana, saya bisa lebih punya banyak waktu untuk berbicara dengan dan mendengarkan diri saya sendiri setelah sebelumnya terlalu lama berbicara dengan orang lain.

 

Mohon maaf nih, beberapa orang yang jalan-jalan sendirian pasti akan mengalami rasa melankolis dan romantisme tersendiri. Bicara soal kesepian, melakukan kegiatan yang selalu tertunda adalah salah satu cara untuk mengusir rasa kesepian. Untuk orang-orang yang tergolong ekstrovert, selalu ada cara untuk memulai percakapan di kafe ataupun bar serta ikut tur lokal dengan traveler lainnya bisa menjadi cara untuk mengusir kesepian. Namun sesungguhnya, berdamai dengan kesepian itu adalah hal yang sebenarnya perlu dilakukan sih di dalam hidup ini. 

 

No Ribet

No rempong and no ribet. Suka-suka mau 'ngapain aja, ini patut diapresiasi saat traveling sendirian. Mau bangun pagi (dan bangun siang), mau skip makan siang atau mau mengubah itinerary seenak jidat merupakan surga dunia jika traveling sendirian. Kalau traveling berdua atau ramai-ramai perlu ada sidang istimewa untuk mencapai kata musyawarah mufakat jika ada perubahan sekecil apapun karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Banyak kepala justru bikin hidup kian ribet, sesuatu yang tidak akan pernah ditemukan ketika kita memutuskan untuk pergi tanpa teman jalan-jalan. Ya walaupun kata beberapa orang, kebersamaan jauh lebih berharga tetapi untuk beberapa saat di dalam hidup, tidak saatnya menjadi individualis dan memberi ruang untuk mengambil keputusan untuk diri sendiri. 

 

Lebih Mandiri

Satu hal yang saya pelajari adalah saya jadi lebih tahan banting! Tidak perlu ikutan akademi militer untuk memiliki kepribadian layaknya pasukan TNI yang selalu berdikari alias berdiri di kaki sendiri, coba saja traveling ke tempat yang susah baik di Indonesia ataupun di luar negeri. Niscaya, pulang-pulang dari tempat itu, kita pasti menjadi orang yang berbeda atau paling tidak, jadi paham bahwa sebenarnya saat kita "didorong untuk hampir sampai ke jurang" (bahasa kerennya: push to the limit), kita akan takjub sendiri tentang bagaimana kita bisa melalui semua rintangan yang susahnya macam ikutan kuis Benteng Takeshi. Ya gak sih?

 

Biasa naik kendaraan pribadi di Jakarta kemudian dipaksa untuk sempit-sempitan di dalam kereta di Sri Lanka, misalnya, merupakan kegiatan yang tidak akan pernah kita lakukan saat berada di zona nyaman. Saat dipaksa untuk lompat ke luar, kita jadi sadar bahwa sebenarnya kita ternyata bisa dan ini adalah prestasi di dalam hidup, meskipun tidak perlu dicatat di MURI.

 

Semakin ke sini, saya semakin menyadari bahwa memiliki keberanian untuk traveling sendirian itu adalah awal untuk bisa melihat dunia yang kayaknya 'nggak akan pernah habis untuk dijelajahi seumur hidup. Iya gak sih? 

 

Semoga alasan-alasan di atas bisa menjadi mukadimah dan bahan pertimbangan untuk memasukkan traveling sendirian ke dalam resolusi di tahun baru mendatang. Paling tidak, coba lakukan sekali seumur hidup dan bersiap-siaplah untuk memasang muka tembok dan bertanya keada orang sekitar, "Hello, can you help me to take a picture?", HAHAHA.


Selamat beresolusi! 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Tulisan yang tercantum di dalam blog ini adalah hasil karya dari Lewi Aga Basoeki dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Setiap pencantuman dari tulisan dan juga foto yang termuat di dalam blog ini haruslah seizin dari Lewi Aga Basoeki.

Disclaimer
Menara di Trinidad
Tokyo
Havana 3
Ateshkadeh-ye Isfahan 1
Museo Historico Municipal
Pencarian Dengan Tag

2019. Hak Cipta oleh Lewi Aga Basoeki, Jakarta, Indonesia