08: Kali Kedua di Sumba (Bagian Pertama)

23.08.2017

Ditulis oleh

Salah satu balikan yang paling mudah di dalam hidup saya adalah bukan balik ke pangkuan mantan tetapi balik lagi ke destinasi yang sebelumnya sudah pernah dijelajahi. Kali ini adalah kali kedua saya berada di ... SUMBA. 

 

Waingapu

Pesawat Wings Air dengan jenis ATR72 mendarat dengan sedikit goncangan di Bandar Udara Umbu Mehang Kuda, Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Saya mencoba untuk melongok ke luar jendela kabin sekadar ingin tahu apakah sinar matahari di Sumba masih bersinar terik seperti terakhir kali saya ke pulau yang terletak di Nusa Tenggara Timur ini. Jawabannya? Masih sama. Namun, ada hawa udara yang cukup berbeda ketika saya keluar dari pesawat dan berjalan ke ruang kedatangan di bandara. Udaranya jauh lebih berangin dan sejuk, entah apakah ini pengaruh angin dari benua Australia yang sedang mengalami musim dingin? Udara yang lumayan sejuk ini paling tidak membuat saya dan rekan perjalanan saya, Tama, menjadi lumayan nyaman. 

Kami berdua menunggu koper kami sebelum pada akhirnya dijemput dengan sopir yang baru sempat dihubungi oleh Tama saat transit di Bali, Pak Umbu namanya. Nama yang sama seperti nama bandar udara Waingapu. Saya baru tahu kalau "Umbu" adalah sebutan kebangsawanan untuk seorang laki-laki, namun kemudian maknanya bergeser menjadi nama depan yang populer bagi setiap laki-laki di Sumba. Mungkin seperti sebutan "Raden" di dalam istilah kebangsawanan di Pulau Jawa. 

 

Sampai di dalam mobil, perut saya mulai keroncongan dan begitu melihat jam tangan, saya sadar bahwa ini sudah waktunya makan siang. Saya yang tidak terbiasa makan pagi sudah mulai kelaparan dan langsung meminta Pak Umbu mengantarkan kami ke restoran yang cukup populer di Kota Waingapu, Permata Restaurant & Cafe namanya. Masakan mereka kebanyakan adalah chinese food dan seafood. Hal yang menarik dari tempat makan ini adalah letaknya di atas tebing dan langsung menghadap ke pelabuhan, tempat yang cocok untuk menghabiskan sore hari untuk menanti momen-momen matahari tenggelam. Makanannya juga enak (atau memang karena saya saja yang lapar ya, haha). Dari tempat ini, kita bisa melihat betapa sibuknya Pelabuhan Waingapu, pelabuhan yang menjadi gerbang utama bahan-bahan kebutuhan pokok Pulau Sumba.  

 

Berfoto di Puru Kambera

Kalau sudah pernah ke Sumba, pasti setuju kalau semua tempat di Sumba ini sangat picturesque alias terlalu sayang untuk tidak diabadikan melalui kamera. Selepas makan siang, kami memutuskan untuk melaju ke Pantai Cemara dan melewati Puru Kambera, sebuah sabana dengan perbukitan dan pemandangan langsung menghadap laut lepas. Tahu bahwa kami berdua gemar mengambil gambar, Pak Umbu menghentikan mobilnya di satu titik dan berkata, "Ayo foto dulu!" Saya tersenyum dan langsung tergoda untuk menyalakan kamera saya dan mengambil gambar Puru Kambera meski cahaya matahari saat itu sangat tidak bersahabat dan tidak kamera friendly. 

Pada tahun 2016 kemarin, saya ke tempat ini di sore hari, saat warna lembayung menjadi latar belakang senja langit Sumba. Cantiknya bukan main. Padang rumbut dengan pohon-pohon kering yang tersebar di seluruh sabana, hamparan lautan luas serta perbukitan dengan semak-semak belukar kering adalah pemandangan yang begitu mengesankan di Puru Kambera. Bagian terbaik dari tempat ini adalah di kala fajar hampir menyingsing atau saat sunset. Kurang dari setengah jam kami berada di tempat ini dan Pak Umbu membawa kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Cemara, tempat kami bersantai untuk menunggu sinar matahari tidak lagi bersinar terlalu terik.

 

Ada alasannya mengapa pantai ini disebut dengan Pantai Cemara, bukan karena tempat ini dahulunya adalah tempat shooting Keluarga Cemara. Oke, ini sungguh ngasal. Pasir putih berpadu dengan ratusan cemara yang berderetan di pinggir pantai adalah poin utama dari Pantai Cemara, pantai yang banyak disinggahi orang lokal untuk menghabiskan sore hari dengan duduk-duduk santai, bermain air atau sekadar membakar ikan di tepi pantai bersama keluarga. Aktivitas lainnya yang bisa dilakukan adalah berkunjung ke sebuah restoran di Pondok Wisata Pantai Cemara, satu-satunya penginapan yang berada di tempat tersebut, sekadar memesan minum dan makanan sambil menikmati udara pantai di siang hari. Kegiatan ini yang saya lakukan untuk membunuh waktu sampai jam empat sore, waktu yang tepat untuk mengambil gambar karena sinar matahari yang tak begitu terik. Waktunya Pak Umbu tancap gas lagi! 

 

Senja yang bersahabat di Bukit Persahabatan  

Menanjak naik, berjalan sedikit kemudian terpukau dengan hamparan sawah yang berpadu dengan pohon-pohon kelapa yang melambai tertiup angin sore. Pemandangan mahakarya ini yang menjadi pesona utama Bukit Persahabatan, sebuah bukit yang letaknya tak begitu jauh dari bandar udara Waingapu.

 

Saya tak menyangka bahwa pemandangannya akan sedahsyat ini. Prasangka pertama saya adalah sebuah bukit dengan pemandangan perbukitan Sumba yang berpendar-pendar keemasan terkena sinar cahaya matahari senja. Namun, pemandangan yang saya temukan sama sekali berbeda. Saya dan Tama langsung duduk di tepi tebing, melepaskan kekaguman akan sawah yang menghampar luas dengan latar belakang perbukitkan Sumba yang pasti, cetar membahana! 

 

Bukan Belok ke kiri tapi ke kanan kalau mau ke Pantai Walakiri 

Senja sudah hampir usai dan saya tidak mau melewatkan lagi untuk tidak mengambil gambar di Pantai Walakiri, sebuah pantai yang letaknya justru di sisi kanan (alias sisi timur) Waingapu. Ada pemandangan yang menarik ketika menuju Pantai Walakiri yaitu pemandangan di sisi kanan dan kiri jalan. Langit Sumba yang berwarna lembayung berpadu dengan pepohonan tanpa dahan yang tumbuh liar di sabana serta rumah-rumah tradisional sederhana penduduk setempat adalah pemandangan yang ternilai. Momen menikmati senja di Pantai Walakiri sebenarnya sudah dimulai di dalam perjalanan menuju pantai ini.

Saya mulai melongo ketika bulatnya matahari menjelang senja dipadukan dengan pohon-pohon kelapa dan juga pemandangan Pantai Walakiri. Banyak warga lokal yang bermain bola di pinggir pantai sementara para wisatawan sepertinya sedang sibuk berfoto dengan mangrove yang berada di sisi kir pantai. Sedang surut saat itu, jadi saya serta Tama bisa leluasa mendekati mangrove-mangrove, sekadar mengambil foto sebelum matahari sembunyi di balik perbukitan. Oh iya, waktu sunset di Sumba terbilang lumayan cepat. Ini mungkin karena tempat ini berada di bagian timur Indonesia sehingga matahari tampak lebih cepat tenggelam dibandingkan pemandangan biasanya di bagian barat atau tengah Indonesia. Entahlah.  

 

Bagi saya, pantai ini salah satu pantai yang cukup ramai meskipun dengan minim fasilitas (sebuah hal yang lumrah di Sumba). Saya melihat ada sekelompok anak muda yang memasang tenda di pinggir pantai. Hanya ada satu bangunan vila di sana dan itu pun katanya bekas milik sebuah BUMN namun tak jelas siapa yang memilikinya sekarang. Saya sesungguhnya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di Pantai Walakiri hanya dengan duduk di pinggir pantai, meminum bir sambil membaca buku.

"Gue kesel banget nih, Bang." ujar Tama tiba-tiba saat kami berdua berjalan menyusuri pantai, hendak kembali menemui Pak Umbu yang sabar menunggu di dekat mobil yang diparkir. "Kenape?" saya bertanya penasaran kepada Tama. "Ini sampah-sampah bekas makanan kok dibuangnya sembarangan si ya." Tama memungut sebuah botol plastik yang baru ditemukannya. Saya melihat sekeliling dan pantai ini mulai banyak dikotori oleh sampah-sampah pengunjung yang mungkin lupa bahwa pantai dan lautan lepas bukanlah tempat sampah. Pantai yang tergolong masih "perawan" ini mulai banyak dipenuhi oleh sampah botol plastik atau bekas makanan. Sepertinya memang kita masih perlu banyak belajar untuk membuang sampah pada tempatnya atau tidak meninggalkan bekas apa-apa selain jejak kaki di tempat tujuan wisata.  

 

Saya dan Tama melangkah mendekati Pak Umbu yang sudah siap menyalakan mobilnya, membawa kami kembali ke penginapan di Bukit Morinda, tak jauh dari Kota Waingapu. Sepanjang perjalanan, saya berusaha untuk menyimpan memori perjalanan hari pertama di Sumba. Saya akhirnya sadar mengapa Mbak Mira Lesmana jatuh cinta dengan Sumba, sampai membuat film tentang keindahan alam di pulau ini. Saya pun tidak menyangka bahwa saya pun satu penginapan dengan Mbak Mira Lesmana. 

 

Sampai bertemu di cerita perjalanan berikutnya! 

Lewi Aga Basoeki

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Tulisan yang tercantum di dalam blog ini adalah hasil karya dari Lewi Aga Basoeki dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Setiap pencantuman dari tulisan dan juga foto yang termuat di dalam blog ini haruslah seizin dari Lewi Aga Basoeki.

Disclaimer
Menara di Trinidad
Tokyo
Havana 3
Ateshkadeh-ye Isfahan 1
Museo Historico Municipal
Pencarian Dengan Tag

2019. Hak Cipta oleh Lewi Aga Basoeki, Jakarta, Indonesia