03: Pekerjaan ini Mulia?

19.03.2017

Ditulis oleh

Saya ini adalah orang yang ambivert atau di dalam bahasa Inggris memiliki definisi sebagai "A person whose personality has a balance of extrovert and introvert features." Sisi karakter ini yang kemudian membuat saya suka bertemu dengan banyak orang, mendengarkan kisah mereka dan kemudian mencoba untuk mencari silver lining dari kisah-kisah tersebut. Namun, saya tidak mau membuat orang lain sebagai objek tulisan karena hal tersebut tidaklah etis menurut saya.

 

Salah satu pertanyaan yang saya sering utarakan ketika bertemu dengan teman baru saya adalah, "What's interesting about your job?" Sebuah pertanyaan yang formulanya selalu berbeda di setiap pertemuan, kadangkala saya tanyakan di awal, di tengah-tengah atau di akhir perjumpaan. Tujuannya hanya satu, mencoba untuk belajar dari lawan bicara ini tentang apa yang sejauh ini dikerjakan setiap hari.

 

Setiap hari kita bekerja, namun untuk apa? Itu yang mendasari pertanyaan saya. Kenapa saya harus merelakan bangun pagi, tidak lagi bergelung di dalam selimut, dan menarik diri saya sendiri ke kantor? Untuk apa? Apakah semata-mata supaya saya bisa membayar kartu kredit dan membuat dapur terus mengepul? Dalam konteks kapitalisme, pekerjaan dipandang sebagai suatu kegiatan yang menghasilkan nilai ekonomis semata. 

 

Work does make a living, but it doesn’t make a life.

 

Lantas, ketika kita sudah memutuskan untuk bekerja, pekerjaan apapun itu, hal apa yang menarik? Rasa-rasanya sulit untuk bisa menemukan sisi baik dari pekerjaan yang sifatnya monoton. Apa sih faedahnya buat gue?

 

Salah satu jawaban yang membuat saya tertegun adalah ketika teman baru saya ini, yang profesinya adalah seorang arsitek, yang kurang lebih menjawab pertanyaan saya tadi dengan berkata, "Bagian yang menarik dari pekerjaan gue adalah, karena gue suka membangun rumah, gue punya andil di dalam kehidupan orang lain, gue ada di bagian hidup sebuah keluarga yaitu membangun rumah untuk keluarga tersebut."

 

Untuk sejenak saya terdiam ketika mendengarkan jawabannya. Sang arsitek muda ini berusaha untuk membangun lebih dari sekadar house tapi home, dua kata yang berbeda di dalam bahasa Inggris namun kita tidak memiliki padanan katanya di dalam bahasa Indonesia. Jawaban yang membuat saya menekan tombol reset di dalam pemikiran saya soal pekerjaan dan bagaimana saya memahami bahwa pekerjaan apapun itu ternyata punya dampaknya di dalam hidup orang lain.

 

Selama ini kita terjebak di dalam pemahaman bahwa pekerjaan yang mulia adalah pekerjaan yang sifatnya sosial dan punya dampak langsung ke masyarakat. Pemahaman yang dibungkus sedemikian rupa dan menarik generasi Y untuk menganggap bahwa pekerjaan yang tidak keren adalah pekerjaan yang tidak bisa dibanggakan di sosial media, ini kutub pemahaman yang paling parah. Pemahaman ini sepertinya tidak salah tetapi pemahaman ini mengeliminasi pekerjaan-pekerjaan yang tampak tidak sosial dan punya dampak kepada masyarakat sebagai pekerjaan yang tingkatnya lebih rendah dibandingkan pekerjaan yang punya dampak kepada bangsa negara.

 

Menjadi diplomat jauh lebih prestisius ketimbang menjadi seorang pegawai bank. Menjadi guru di pedalaman jauh lebih mulia dibandingkan menjadi seorang tour guide. Kita mulai memisahkan pekerjaan-pekerjaan mana yang mulia dan yang tidak. Apakah benar demikian?

 

Setiap hari, saya berjuang setengah mati untuk memahami bahwa pekerjaan yang saya lakukan, sebagai seorang konsultan hukum, punya dampak bagi bangsa ini. Apakah ada? Tentu saja ada, namun dampak tersebut tak bisa dengan mudah demikian saja dipamerkan kepada publik serta mendapatkan afirmasi dari banyak orang bahwa pekerjaan saya ini benar-benar mulia.

 

Berdampak atau tidaknya pekerjaan bagi  orang lain tidaklah tergantung pada approval, pekerjaan itu sudah berdampak dengan sendirinya.

 

Tidak semua orang memang punya kesempatan untuk bekerja di pekerjaan-pekerjaan yang mungkin sifatnya prestisius dan langsung bisa menyentuh aspek hidup banyak orang. Namun, bukankah setiap manusia ini punya peran masing-masing di dalam kehidupan? Tidak semua orang menjadi petani, tidak semua orang juga menjadi pedagang, dan tidak semua orang menjadi tuan tanah. Semua ada bagiannya.

 

Bagian yang paling penting? Ya kerjakan bagian kita masing-masing, tanpa perlu afirmasi bahwa pekerjaan kita ini adalah pekerjaan yang mulia.


Selamat hari Minggu! 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Tulisan yang tercantum di dalam blog ini adalah hasil karya dari Lewi Aga Basoeki dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Setiap pencantuman dari tulisan dan juga foto yang termuat di dalam blog ini haruslah seizin dari Lewi Aga Basoeki.

Disclaimer
Menara di Trinidad
Tokyo
Havana 3
Ateshkadeh-ye Isfahan 1
Museo Historico Municipal
Pencarian Dengan Tag

2019. Hak Cipta oleh Lewi Aga Basoeki, Jakarta, Indonesia