03: DDB - Deket-Deket (lalu) Bye!

18.03.2017

Ditulis oleh

 

Sepertinya adalah hal yang normal di zaman sekarang ini ketika kita dekat dengan seseorang selama satu atau dua bulan, kemudian entah kita yang merasa bahwa hubungan tidak berhasil dengan semestinya lalu kemudian mulai meregangkan jarak. Jika dahulu bisa berkomunikasi setiap hari, kemudian frekuensinya mulai berkurang sampai kemudian memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. Jawaban penutup untuk kisah ini, "Ya, karena nggak cocok aja."

 

Saya percaya bahwa di dalam hidup ini, ada beberapa orang yang memang hanya singgah sebentar lalu kemudian pergi lagi di dalam hidup kita. Hal ini bisa berlaku untuk hubungan pertemanan atau kisah cinta. Suka atau tidak suka, kita menjadi tempat singgah dan bukan tujuan akhir. Jika diibaratkan sebagai sebuah bandara, kita mungkin adalah Bandara Changi di Singapura yang setiap tahunnya justru lebih banyak disinggahi oleh wisatawan ketimbang menjadikan Singapura sebagai tujuan akhir mereka.

 

Bandara Changi sangat menarik dan memikat, banyak yang berbelanja, menikmati kenyamanan untuk berlama-lama di dalam bandara sambil menikmati es kopi dan melihat pesawat lalu-lalang, namun problemnya adalah, Bandara Changi bukanlah tujuan akhir. Orang-orang ini pun rasanya juga demikian di dalam hidup kita. Bersama-sama menciptakan kenangan yang tak bisa mudah dilupakan namun pada akhirnya, mereka akan pergi juga. Sebagus apapun kita memperbaiki diri dan mencoba untuk membuat mereka singgah, usaha tersebut tampak sia-sia. Mereka tidak menjadikan kita sebagai destinasi terakhir. 

 

Saya memandang orang-orang yang singgah ini sebagai bagian dari hidup. Right people will choose to stay. Itu kuncinya dan kalau pun orang-orang yang memutuskan untuk pergi sebenarnya tidak bisa disalahkan juga karena datang atau pergi adalah hak dan saya pun tidak bisa menahan langkah orang lain untuk pergi ke tempat lainnya. Menurut saya, waktu yang pada akhirnya akan membuktikan bahwa orang-orang tersebut memang akan selalu setia untuk ada, dalam kapasitas apapun. Kita tidak cocok dengan semua orang dan oleh karena itu, kita hanya bisa cocok dengan beberapa orang. 

 

Kuncinya: jangan baper.

 

Saat mereka singgah, ya nikmati saja prosesnya dan bagaimana mereka terkagum-kagum dengan "Bandara Changi" dengan segala hal yang menarik di dalamnya. Saat mereka memutuskan untuk berjalan ke boarding room dan pergi ke destinasi selanjutnya, relakan saja. Ini bagian dari proses apa yang dinamakan kehidupan orang dewasa. 

 

Sulit memang untuk tidak baper, apalagi ketika kita sudah sangat "into that person" atau katakanlah, kita sudah berkorban sedemikian rupa demi orang tersebut, tetapi pada akhirnya kita tidak berpacaran atau bersahabat lagi. Penting makanya untuk menaruh ekspektasi serendah mungkin dan bersikap "ya sudahlah". Kalau memang tidak jodoh sebagai sahabat atau pacar, apakah harus dipaksa? Tidak juga. Prosesnya? Ya saya yakin bahwa kita akan meraung-raung sedih juga.

 

Namanya juga hidup. Namanya juga belajar untuk mencintai seseorang. 

 

Intinya sih, kalau hanya menjadi tempat persinggahan sementara jadilah Bandara Changi dengan predikat "The World's Best Airport", saat orang-orang itu tinggal landas, ada perasaan rindu ingin kembali dan mungkin menyesal, karena bandara selanjutnya tidak lebih bagus dari Bandara Changi. 

 

Selamat berakhir pekan! 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Tulisan yang tercantum di dalam blog ini adalah hasil karya dari Lewi Aga Basoeki dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Setiap pencantuman dari tulisan dan juga foto yang termuat di dalam blog ini haruslah seizin dari Lewi Aga Basoeki.

Disclaimer
Menara di Trinidad
Tokyo
Havana 3
Ateshkadeh-ye Isfahan 1
Museo Historico Municipal
Pencarian Dengan Tag

2019. Hak Cipta oleh Lewi Aga Basoeki, Jakarta, Indonesia