01: Kita Semua Takut Patah Hati

19.01.2017

Ditulis oleh

 

Saya memulai tulisan ini dengan sebuah hipotesis: manusia selalu tidak siap merasakan penolakan. Kita sangat pandai membungkus penolakan atau kemungkinan penolakan tersebut dengan beragam asumsi dan pembenaran. Ini pun berlaku saat kita menyukai seseorang.

 

Malam ini, di tempat gym, saya berpikir keras soal hal ini, terlebih lagi ketika saya menyukai seseorang dan kemudian ternyata, orang itu malah tidak punya perasaan yang sama dengan apa yang saya rasakan. Saya tertolak, jelas iya, namun proses untuk sampai mengetahui bahwa ia tidak menyukai saya itu adalah sesuatu hal yang sulit.

 

Saat kita menjadi sedemikian agresif untuk menunjukkan kepada sang calon kekasih hati kalau kita bermaksud untuk mendekatinya dan kita mendapatkan sinyal-sinyal yang menunjukkan penolakan, maka kita kemudian membuat asumsi-asumsi tersendiri bahwa sinyal-sinyal tersebut bukanlah sebuah penolakan. Kita membenarkan tindakannya dan mencoba untuk berpikiran positif, padahal jelas-jelas, penolakan itu akan datang, dibayar tunai dan kontan.

 

Kita berusaha sedemikian rupa, mengejar tanpa henti dan terkadang kita menjadi lupa akan jati diri kita sendiri, beranggapan bahwa yang namanya cinta itu harus diperjuangkan, meskipun kita jelas-jelas tahu bahwa pengorbanan yang kita keluarkan itu tidak akan sebanding dengan rasa penolakan yang akan kita alami. Kita masih merasa optimis bahwa hati masih bisa ditaklukan dan harapan akan selalu bisa disauhkan seperti layaknya kapal yang bersandar di sebuah pelabuhan. 

 

Berapa banyak sih dari kita yang kemudian tersadarkan di akhir cerita bahwa patah hati itu sebenarnya bisa dihindarkan kalau kita tidak membodohi diri kita sendiri? Kalau kita tahu bahwa ia sebenarnya hanya berharap bahwa kita menjadi teman. Kalau kita tahu bahwa daya dan upaya yang kita keluarkan tak berbanding lurus dengan perasaannya kepada kita? 

 

Untuk persoalan ini, saya bukan orang yang optimistis. Hati ini tidak siap menerima penolakan dan kita membuat justifikasi untuk menutupi kebenaran. 

 

Selamat menyambut hari Jumat! 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Tulisan yang tercantum di dalam blog ini adalah hasil karya dari Lewi Aga Basoeki dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Setiap pencantuman dari tulisan dan juga foto yang termuat di dalam blog ini haruslah seizin dari Lewi Aga Basoeki.

Disclaimer
Menara di Trinidad
Tokyo
Havana 3
Ateshkadeh-ye Isfahan 1
Museo Historico Municipal
Pencarian Dengan Tag

2019. Hak Cipta oleh Lewi Aga Basoeki, Jakarta, Indonesia